Mengapa Psikoterapi dalam Psikoanalisis Menganalisis Psikopatologi Berdasarkan Perkembangan Psikoseksual?
Anggota Kelompok : 3PA17
Citra Siti Aisyah (12514445)
Indah Puji Lestari (15514273)
Nabilah Afifah (17514710)
Yohana Yayang Citra (1C514436)
Pembahasan
psikoanalisis dan psikoseksual saling berkaitan dan kedua teori tersebut dikaji
oleh Sigmund Freud. Fokus keduanya adalah alam bawah sadar. Menurut Freud, alam
bawah sadar mengambil peran penting dalam penyusunan struktur kepribadian
seseorang. Sigmund Freud mengemukakan bahwa kehidupan jiwa memiliki tiga
tingkat kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan
tak-sadar (unconscious). Topografi atau peta kesadaran ini dipakai
untuk mendiskripsi unsur cermati (awareness) dalan setiap event
mental seperti berfikir dan berfantasi. Sampai dengan tahun 1920an, teori
tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga unsur kesadaran itu. Baru pada
tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yakni id, ego,
dan superego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi
melengkapi/menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi atau tujuannya.
Paradigma
psikoanalisis bisa dikaitkan paling populer dalam bidang psikopatologi dan
terapi. Sigmund Freud yang diangap sebagai bapak psikoanalisa membagi jiwa
kedalam tiga bagian prinsipil, yaitu: id, ego, dan superego.
1. Id
adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal. Bekerja
dengan menganut prinsip kesenangan (pleasure principle). Contohnya adalah
ketika seseorang lapar maka ia akan membayangkan makanan.
2.
Ego
adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pengontrol jalannya id dengan
superego (penengah antara id dan superego) atau pelaksanaan dari Id. Menganut
prinsip realitas (reality priciple). Contohnya adalah orang yang merasa lapar
maka akan pergi mencari makan.
3. Super
Ego adalah bagian moral dari kepribadian manusia. Merupakan filter dari sensor
baik-buruk, salah-benar, boleh-tidak dari sesuatu yang dilakukan oleh dorongan
ego. Contohnya adalah orang yang lapar tetapi ia sedang berada di kelas mengikuti
perkuliahan dia tidak bisa menahan laparnya dan keluar dari kelas tanpa meminta
izin pada dosen atau memilih menunggu jam perkuliahan selesai baru pergi ke
kantin untuk makan. Maka superego berperan penting pada saat itu.
Selain
itu, Freud juga membagi tahapan perkembangan kepribadian menjadi enam bagian. Tahapan
ini biasa disebut dengan tahapan perkembangan Psikoseksual. Dan tahapan ini
berkaitan erat dengan tiga prinsip kesenangan yang telah dijelaskan diatas,
karena sama-sama membahas tentang kesenangan atau kenikmatan. Ke enam fase
perkembangan Psikoseksual adalah sebagai berikut (Sumadi Suryabrata, 1982 :
172-173).
1. Fase
oral (oral stage ): 0 sampai kira-kira 18 bulan Bagian tubuh yang sensitif
terhadap rangsangan adalah mulut.
2.
Fase
anal (anal stage) : kira-kira usia 18 bulan sampai 3 tahun. Pada fase ini
bagian tubuh yang sensitif adalah anus.
3.
Fase
falis (phallic stage) : kira-kira usia 3 sampai 6 tahun. Bagian tubuh yang
sensitif pada fase falis adalah alat kelamin.
4. Fase
laten (latency stage) : kira-kira usia 6 sampai pubertas Pada fase ini
dorongan seks cenderung bersifat laten atau tertekan.
5.
Fase
genital (genital stage) : terjadi sejak individu memasuki pubertas
dan selanjutnya. Pada masa ini individu telah mengalami kematangan pada organ
reproduksi
Dari
penjabaran diatas, Freud memandang psikopatologi sebagai masalah dalam
perkembangan, yaitu terganggunya kepribadian individu pada saat melewati
tahap-tahap psikoseksual. Bagi Freud, perkembangan kepribadian sebagai sesuatu
yang komulatif, sehingga gangguan pada masa awal perkembangan akan menjadi
peristiwa traumatik yang berpengaruh sampai individu dewasa. Psikopatologi
menurut psikoanalisis ada beberapa jenis yaitu, histeria, fobia, obsesi-
kompulsi, depresi, dan ketagihan obat (Alwisol, 2005 : 45).
a.
Histeria
Histeria
merupakan gangguan fisik, misalnya lumpuh, tuli, buta, dst. Yang penyebabnya
bukan factor jasmaniah tetapi factor kejiwaan. Menurut Freud hysteria
merupakan transformasi dari konflik-konflik psikis menjadi malfungsi fisik.
b.
Fobia
Fobia
adalah ketakutan yang tidak realistis. Freud memandang gangguan ini sebagai
dampak dari kecemasan yang dialihkan, bisa berupa kecemasan yang berkaitan
dengan impuls seksual maupun kecemasan akibat peristiwa traumatis.
c.
Obsesi-kompulsi
Obsesi
adalah ide tertentu yang selalu melekast pada diri seseorang sedangkan
kompulasi adalah dorongan (bersifat paksaan dari dalam) untuk melakukan
tindakan tertentu, yang sebenarnya tidak perlu, secara berulang-ulang .
d.
Depresi
Depresi
merupakan gangguan jiwa dengan gejala-gejala perasaan tidak mampu, tidak
berguna dan berharga. Menurut Freud, depresi berakar pada kehilangan cinta
berkenaan dengan oedipus complex, sehingga dia marah pada diri sendiri
e.
Ketergantungan pada alcohol dan obat-obatan
Menurut
Freud ketergantungan seseorang pada alkohol maupun obat-obatan dilator
belakangi oleh instink kematian (thanatos) yang ada pada orang yang
bersangkutan.
Kesimpulannya,
bahwa masalah psikopatologis sendiri dapat di analisis berdasarkan perkembangan
psikoseksual seseorang. Karena psikopatologi dianggap sebagai masalah dalam
perkembangan, yaitu terganggunya kepribadian individu pada saat melewati
tahap-tahap psikoseksual. Dan psikoseksual berkaitan erat dengan ketiga
prinsipil yang saling berhubungan (id, ego, dan superego) yang di bahas di dalam
psikoanalisa.
DAFTAR
PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar